Random Posts

Pasang Iklan disini hb Red 0895327076663

Cara Satgas TMMD, Menyikapi Dampak Disrupsi Teknlogi





Postnewtime l Semarang.-Perkembangan teknologi tidak dapat dimungkiri telah mengubah pola kehidupan umat manusia, karena dunia menjadi tak berbatas dan semua bisa masuk didalamnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Terlebih memasuki era Revolusi Industri 4.0, yang ditandai dengan disrupsi teknologi, dimana para pelaku industri akan masuk ke rumah-rumah konsumen dari pintu ke pintu secara online melalui telepon pintar (smartphone).
 
Namun disisi lain dengan perkembangan teknologi akan berdampak pada berkurangnya interaksi sosial antar individu dalam kehidupan masyarakat. Kebiasaan bersendaugurau dan bermain bersama semakin sulit dijumpai, karena masing-masing asyik dan sibuk dengan gudget/smartphonenya. Mereka berkumpul tapi tak berkomunikasi, mereka bersama tapi asyik sendiri-sendiri, dan ini terjadi di semua usia mulai dari anak-anak hingga lansia.



Berangkat dari permasalahan tersebut, Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) yang tengah membantu pemerintah daerah memeratakan pembangunan dan demi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat merasa prihatin. Ditengah-tengah upayanya untuk menggiatkan dan menumbuhkan semangat kegotongroyongan  membangun infrastruktur di pedesaan ternyata menemukan sikap yang justru lawanan khususnya dikalangan anak-anak dan remaja. 



Bagi Satgas TMMD, pembangunan infrastruktur yang diharapkan dapat meningkatkan perekomonian masyarakat memang perlu, namun menyiapkan generasi masa depan yang berkarakter juga sangat perlu, sehingga kedua-duanya harus berjalan bersama-sama. Hal ini yang menjadi tantangan tersendiri oleh para anggota Satgas TMMD Reguler ke-105 yang salah satunya adalah Serma Paijan. Dirinya merasa terketuk hatinya untuk bagaimana mengembalikan kehidupan sosial kemasyarakatan yang saling berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain tanpa harus meninggalkan teknologi.

Menurut Paijan, generasi muda yang akan melanjutkan pembangunan dimasa depan harus melek teknologi tetapi tidak boleh meninggalkan jati diri dan budaya bangsa. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan penanaman nilai-nilai kebudayaan melalui pertunjukan wayang.

Menurutnya, sudah sejak jaman dahulu wayang sudah terbukti ampuh untuk mengumpulkan masyarakat dan menyampaikan pesan-pesan melalui tokoh-tokoh wayang dengan berbagai karakter. Maka disuatu siang, sembari menghilangkan lelah usai mengecor jalan, Serma Paijan berinisiatif mengunjungi sekerumunan anak-anak di bawah pohon di ujung jalan yang tengah digarap dan segera mengeluarkan senjatanya untuk melakukan sebuah pertunjukan wayang. 

Pertunjukkan sangat sederhana yang hanya memainkan tokoh punakawan Semar, Gareng, Petruk dan Bagong itu ternyata sangat diminati bukan hanya di kalangan anak-anak saja, tetapi namun juga para orang tua. Apalagi ditambah sikap dan banyolan Paijan yang lucu saat memperagakan tokoh wayangnya dengan mengenakan seragam lorengnya, tak sedikit para penonton yang termanggut-mangut dan tertawa riang. 

“Pertunjukannya tokoh punakawan ini memang kemasannya dibuat ringan dengan inti muatan cerita wawasan kebangsaan, sehingga gampang dicerna dan mudah dipahami. Generasi muda harus melek teknologi, tetapi jangan tinggalkan jati diri dan budaya bangsa”, ungkap Babinsa yang keseharian berdinas di Koramil 01/Demak.

Lelaki kelahiran Grobogan ini mengaku bersyukur dengan bakat yang dimilikinya karena kebiasaan menjadi dalang, anak-anak menjadi dekat dengan dirinya dan tidak ada sekat antara tentara dengan rakyat. 

“Dengan begini kan, dua agenda bisa dijalankan dalam satu frame. Tetap manunggal membangun desa, para orang tuanya gotong-royong ngecor jalan, anaknya dapat wawasan kebangsaan dan terhindar dari kecanduan game online",  katanya.

Lain Serma Paijan lain pula dengan rekannya Serda Agus. Di sela-sela kesibukannya ikut bekerja dalam pembangunan fisik, dia menyempatkan diri mendatangi dan mengajak bermain bersama kelompok seni karawitan di Desa Kalikondang sebagai upaya untuk tetap menjaga dan melestarikan budaya dan kearifan lokal.

Demikian pula dengan Praka Sutino. Setelah seharian beraktifitas di lokasi pembangunan sarana fisik TMMD, pada malam harinya masih menyempatkan diri untuk mengajar ngaji Al Qur’an anak-anak Desa Kalikondang yang masih duduk di Sekolah Dasar (SD). 

Masyarakat sangat berterima kasih berterima kasih dan tak mengira kalau diantara para Satgas TMMD terdapat orang-orang berbakat dalam bidang seni dan begitu fasih mengaji. Dan yang lebih utama mereka dengan suka reka mau menularkan ilmunya kepada anak-anak di desanya. 

Sementara itu, Kapendam IV/Diponegoro Kolonel Arh Zaenudin, S.H., M.Hum., di tempat terpisah mengatakan, kegiatan tersebut memang perlu dilakukan mengingat saat ini telah memasuki era globalisasi dan bahkan telah memasuki revolusi industri 4.0. Menghadapi persaingan industri yang sudah dilakukan secara online melalui smartphone, bukan hanya butuh pengetahuan dan ketrampilan saja, tetapi juga butuh karakter dan kepribadian untuk bisa memilih dan memilah mana yang baik dan yang tidak baik.

Diungkapkan Kapendam, pengenalan wayang yang disampaikan Serma Paijan dan ajakan berlatih karawitan merupakan bukti ketulusan TNI dalam memelihara dan menjunjung tinggi budaya serta membentuk karakter dan kepribadian generasi muda. 

Dirinya berharap, dengan dikenalkan wayang sejak dini kepada anak-anak, mereka lebih memiliki rasa cinta dan rasa memiliki bangga terhadap budaya sendiri dan tidak mudah terpengaruh dengan budaya lain yang tidak sesuai dengan keribadian bangsa. 

Demikian juga dengan diberikan ilmu agama, anak-anak juga akan menjadi generasi yang religius dan berbudipekerti luhur sehingga dapat membentengi diri perbuatan-perbuatan menyimpang, imbuhnya

Kolonel Arh Zaenudin juga ingin membuktikan bahwa “Prajurit TNI” yang selama ini dikonotasikan sebagai orang yang sangar, galak, sadis dan sebagainya tidaklah benar. Walaupun memiliki tampang yang sangar, namun terdapat sisi humanis yang justru tidak kalah dengan masyarakat pada umumnya. 

“Semoga dengan pertunjukkan wayang, karawitan, ngaji dan berbagai kegiatan sosial lainnya dapat memberikan bekal kepada generasi penerus dalam menyikapi Revolusi Industri 4.0 yang semakin nyata”, pungkasnya.


Jurnalis : Didi/ S.roto

Post a Comment

0 Comments