Menyungkil Sedikit Saja Tentang Moral Politik Oleh Eneng Humaeroh -->

Advertisement

Menyungkil Sedikit Saja Tentang Moral Politik Oleh Eneng Humaeroh

Admin
Friday, 3 January 2020

Oleh : Eneng Humaeroh, Bendahara DPP PAN

Rasanya agak sulit untuk mengatur nafas menahan rasa malu sebagai pengurus PAN ketika menyeruak informasi di public tentang sikap pimpinan partai biru berlambang matahari. Pasalnya beredar kabar di berbagai media online mantan ketua MPR yang sekaligus Ketua Umum PAN belum meninggalkan rumah dinas Ketua MPR, bahkan termasuk ruangan dan kendaraan dinas. Meskipun berita ini disangkal dengan dalih ruangan belum direnovasi dan masih kuno, faktanya ruangan Ketua MPR baru saja direnovasi sebelum pelantikan pejabat yang baru.

Sama halnya ketika dalam Refleksi Reformasi Sang ketum berkata dihadapan seluruh undangan yang hadir dan di hadapan Amien Rais, “Tradisi PAN adalah Ketua Umum satu periode, mulai dari Pak Amein, Mas SB, Pak Hatta dan saya, saya juga satu periode Pak Amien”. Ungkapnya dalam sambutan Refleksi 20 Tahun Reformasi di gedung MPR RI 2018 lalu.

Pun dalam menghalau laju Hatta Radjasa yang menjadi rivalnya di kongres Bali, sang Ketum mengingatkan berulang kali dalam jejak digitalnya bahwa Ketum PAN hanya satu periode. Walaupun yang terakhir ini mendapatkan pembelaan dari Totok Daryanto bahwa ZH menarasikan satu periode sebagai propaganda melawan petahana. Hal ini tentu sangat politis, dan menurutnya para kader yang mendukung petahana lebih mengutamakan impian menuju partai yang besar dimasa yang akan datang.

Sebagai tokoh yang menyandang nama cukup besar TD tidak memberikan rujukan yang obyektif terhadap klaim dukungan kepada ZH. Sebatas pembelaan atas labil sikap ZH dalam memimpin partai. Terlepas dari apapun ZH sudah cedera atas ucapannya yang ia jilat sendiri. Sungguh tak elok jikalau seorang ketua umum tak memperhatikan moral politiknya. Ungkapan yang diumbar dihadapan public dan banyak saksi dengar, kini mencoba disembunyikan ditempat yang terang.

Dari banyak rangkaian kecacatan moral inilah kita patut pertanyakan, apa yang kita banggakan dalam berpolitik? Apa prestasi PAN yang dapat kita banggakan? Kursi DPR berkurang, kantor tak ada, moral tak ada, pengelolaan partai yang semrawut, konflik di tingkat DPW dan DPD yang tidak juga diselesaikan, malah terkesan cuci tangan, konflik pilkada, penyelenggaraan rapat-rapat yang tidak memenuhi prodesural hingga penggunaan fasilitas Negara yang bukan lagi haknya.

Mari kita renungkan, masih pantaskah kita menggelorakan “lanjutkan”? mesti ada budaya malu, budaya moral dan menjunjung tinggi nilai-nilai dan standar etis. Sebab jika nilai-nilai itu hilang apa yang kita banggakan dalam berpartai? Karena nilai dan moral itulah yang menjadi differensiasi antara PAN dengan partai lainnya. Bagaimana kita melihat objektifitas atas langkah-langkah ketua umum dalam membawa perahu besar PAN mengarungi kancah perpolitikan nasional jikalau moral sudah tak lagi menjadi standar prilaku.

Apa yang kita pandang dari semua ini? PAN secara kuantitas merosot jauh dari posisi lima turun menjadi delapan, apakah itu kebanggaan? Kalau tidak malu, alasan apa yang menjadi dasar propaganda ZH dalam menghadapi kongres yang akan datang?

Penulis yakin, banyak hati yang berkecamuk menyaksikan tingkah Sang Ketum, banyak yang tidak setuju dengan sikap politiknya, namun membungkam diri dengan berbagai alasan, ada yang berani menyatakan sikap namun lebih banyak yang diam. Tapi hati nurani tentu tidak bisa dibohongi, para kader menginginkan pemimpin yang visioner, teguh dalam perjuangan, bersikap bijak dan adil, memiliki pandangan politik yang kuat, daya loby yang mumpuni bahkan terbuka dan mau mendengarkan.

Para kader rindu pemimpin dengan kemampuan kognisi yang tinggi, sehingga mampu berhitung dalam peta politik. Memiliki kesetiaan dan berkarakter PAN. Tidak haus pencitraan, tampil elegan dan percaya diri sehingga perahu PAN bisa berlayar dengan gagahnya.

Kita yakini sosok ideal itu ada, pasti ada, dia seperti mutiara dalam lautan, hanya saja belum banyak yang tahu, sebab selama ini panggung untuknya ditutup, tapi kini saatnya tiba. Sang pemimpin baru yang siap menakhkodai kapal besar PAN menghadapi konstelasi 2014.

Mari berlayar bersama nakhkoda baru, tinggalkan yang lama, jangan lagi bermimpi tapi mari berhitung secara rasional, mendengarkan visi dan misi serta kenali track recor perjalanan karir politiknya. PAN Menuju pemimpin baru.