Dede Farhan Aulawi, Pemilihan Teknologi Dalam Sistem Pertahanan Laut -->

Advertisement

Dede Farhan Aulawi, Pemilihan Teknologi Dalam Sistem Pertahanan Laut

Sunday, 16 February 2020



Postnewstime l Bandung.- Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki luas perairan dua kali lipat dari luas daratannya. Konsekuensi logis dari fakta ini adalah perlunya penguatan angkatan laut dengan sarana dan prasarana yang memadai, termasuk juga alat utama sistem persenjataannya. Di samping itu, juga akan terkait dukungan anggaran yang memadai dan juga pemenuhan kompetensi SDM yang unggul. Pemenuhannya tentu tidak bisa sekaligus karena berbagai keterbatasan yang ada, tetapi paling tidak perlu memiliki roadmap yang jelas agar mampu memproyeksikan kekuatan pertahanan di laut yang luas tersebut “, demikian disampaikan oleh Pemerhati Teknologi Hankam Dede Farhan Aulawi, di Bandung (15/2).

Kemudian Dede juga menjelaskan bahwa bagi sebuah negara maritim seperti Indonesia, memiliki armada tempur yang kuat menjadi hal yang sangat penting untuk menjaga dan mempertahankan kedaulatan negara. Armada tempur tersebut secara otomatis harus memperhatikan perkembangan teknologi terbaru agar kompatibel dengan tantangan dan ancaman yang dihadapi. Sesuai dengan terminologinya, kapal perang merupakan kapal yang digunakan untuk kepentingan militer, yang jenisnya terdiri dari kapal induk, kapal kombatan, kapal patroli, kapal angkut, kapal selam dan kapal pendukung lainnya. Khusus untuk negara yang memiliki lautan yang membeku seperti Rusia dan Finlandia, juga memiliki kapal pemecah es.

Karakteristik kapal perang yang dibuat dari waktu ke waktu terus berkembang  mengikuti perkembangan teknologi yang menyertainya, misalnya penemuan teknologi radio, telegraf, radar, sonar dan alat komunikasi serta navigasi semakin melengkapi kemampuan kapal dalam melaksankan tugas – tugas operasi di lautan, sehingga mampu melakukan deteksi, komunikasi termasuk penyadapan yang semakin canggih. Begitupun dengan perkembangan persenjataan mulai dari meriam hingga roket, rudal, ranjau dan torpedo.

Selanjutnya Dede juga menambahkan terkait proyeksi kekuatan laut yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kepentingan masing – masing negara. Secara umum diproyeksikan ke dalam Green Water Navy, Brown Water Navy, dan Blue Water Navy.

Brown Water Navy merupakan kekuatan AL yang diproyeksikan untuk melindungi dan mempertahankan wilayah perairan di sekitar pantai, atau yang biasa dikenal sebagai zona litoral. Wilayah ini mencakup pesisir hingga laut lepas pantai berjarak ratusan mil. Brown Water Navy merupakan kapal patroli dengan persenjataan defensif seperi meriam untuk operasi pantai dan perlindungan kegiatan ekonomi di perairan. Meskipun untuk saat ini, sudah mulai juga dilengjkapi rudal-rudal ofensif anti kapal permukaan dan/atau torpedo dan didukung oleh kapal kombatan. Lalu Green Water Navy diproyeksikan hingga kepulauan dan pulau-pulau terluar dari suatu negara. Dimensi jangkauannya mencapai ribuan mil. Sedangkan Blue Water Navy diproyeksikan mampu menjangkau samudera dan perairan antar benua.

Di abad ke-21 ini dimana perkembangan teknologi semakin maju, maka fitur – fitur kapal perang pun sudah semakin luar biasa, termasuk dilengkapi senjata berat yang bisa mematikan bahkanmenghancurkan musuh. Lihat saja kapal perang Zumwalt milik AS yang dilengkapi sistem sensorik agar tidak terdeteksi sistem radar.  Dia mampu meluncurkan 600 proyektil bertenaga roket yang dapat mencapai target hingga 100 km lebih, serta dilengkapi amunisi rudal Tomahawk, rudal penghancur pesawat terbang, hingga rudal anti kapal selam.

Di samping AS, ternyata India juga juga punya INS Kochi yang memiliki kecepatan 53 km per jam. Kapal ini dilengkapi 16 rudal Brahmos untuk menyerang sesama kapal dan 32 rudal jarak menengah. Lalu untuk mengantisipasi serangan kapal selam, ia juga dipersenjatai dengan 4 peluncur torpedo MK 46 dan 2 stasiun peluncur roket anti kapal selam RBU-6000.

Begitupun Swedia tidak mau ketinggalan, setelah memiliki Zlatan atau IKEA, ia juga punya kapal perang Visby. Bodi kapal dilengkapi dengan serat karbon yang punya kemampuan untuk “menyamarkan diri” dari deteksi layar. Di samping itu, ia juga dilengkapi senapan Bosfors 57 mm 70 SAK yang dapat melontarkan 120 proyektil per menitnya dengan jangkauan jarak mencapai 17 km. Termasuk Saab Bofors Dynamics RBS 15mk2, yang merupakan misil khusus untuk menghantam kapal perang dengan hulu ledak yang mencapai berat 200 kg.

Kemudian Inggeris juga patut berbangga diri setelah memiliki kapal perang HMS Dauntless, sebuah kapal penghancur tipe 45. Teknologi radar dan sistem persenjataannya diklaim mampu memburu target musuh berukuran paling kecil dengan kecepatan paling tinggi sekalipun sehingga membuatnya semakin ditakuti hiu – hiu besi di lautan.

Dan yang lebih membanggakan lagi adalah KRI Martadinata 331 milik Indonesia, kebanggaan Indonesia dan hasil karya anak bangsa, hasil kerja sama alih teknologi antara TNI AL dan PT. PAL dengan galangan kapal Damen Schiede Naval Ship Building dari Belanda. KRI ini sudah mengadaptasikan teknologi siluman, sehingga sulit terdeteksi oleh radar musuh. Ia juga sudah dilengkapi sistem persenjataan seperti rudal, torpedo, hingga meriam untuk menghalau dan menyerang musuh yang ada di berbagai medan. Contoh rudalnya adalah Excocet MM40 Blok 3 yang memiliki daya jangkau mencapai jarak 180 – 200 km. Juga dilengkapi OTO Melara, senjata yang terletak di tengah kapal ini mampu memuntahkan 85 proyektil per menit.

“ Dengan lahirnya KRI Martadinata 331 ini, mudah – mudahan bisa merangsang kelahiran kapal – kapal lainnya hasil karya industri dalam negeri, sehingga mampu menjalankan tugas untuk menjaga kedaulatan negara lebih optimal lagi “, harap Dede menutup perbincangan.


Jurnalis :Dede/Red