Pengrajin Eceng Gondok Pinang Mampu Menembus Pasar Nasional dan Internasional -->

Advertisement

Pengrajin Eceng Gondok Pinang Mampu Menembus Pasar Nasional dan Internasional

Senin, 16 November 2020


PostNewsTime-Tangerang.Eceng gondok yang seringkali tumbuh liar di danau ternyata bisa bernilai ekonomis setelah mendapat sentuhan Ieko Damayanti, pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Pinang Beres.


Berkat eceng gondok, Ieko Damayanti, berhasil menerima penghargaan dari dua menteri sekaligus pada 27 Oktober 2020. Kedua menteri tersebut yakni Menteri Riset dan Tekonologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro dan Menteri Koperasi Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM), Teten Masduki.


Ieko memperoleh penghargaan tersebut lantaran keranjang berbahan dasar eceng gondok karya Ieko Ratu Eceng (brand yang dibuat Ieko Damayanti) mampu menembus pasar nasional bahkan internasional. "Saat acara BRIncubator yang digelar September-Oktober 2020 lalu, Ieko, Ratu Eceng mampu menembus 10 besar UMKM nasional. Saya digembleng selama lima hari untuk bisa menembus pasar internasional," kata Ieko Damayanti, Jumat (13/11/2020).


Dari pelatihan BRIncubator tersebut, Ieko mendapat permintaan untuk memenuhi pasar Eropa sebanyak satu juta keranjang berbahan baku eceng gondok. "Eceng gondok oleh coach BRIncubator dinilai bagus karena mempunyai pangsa pasar besar. Coach bilang, akan ada permintaan pasar sebanyak satu juta dari Eropa untuk keranjang," ungkapnya.


Untuk pasar dalam negeri, sambung Ieko, produknya oleh Coach BRIncubator akan dimasukkan ke SOGO, Alun-alun Grand Indonesia, Lafayette Indonesia dan berbagai tempat lainnya.


Camat Pinang, Kaonang, mengungkapkan, keberhasilan Ratu Eceng ini, diharapkan bisa menginspirasi UMKM lainnya di wilayah Kecamatan Pinang. UMKM bukan hanya sekadar mengejar profit finansial, namun sesungguhnya harus punya profit non finansial yakni nilai kearifan lokal.


"Eceng gondok ini bahan baku kerajinan yang ramah lingkungan. Eceng gondok inikan dianggap tumbuhan yang mengganggu. Namun bisa dimanfaatkan menjadi produk yang bernilai jual dan ramah lingkungan. Ini nilai profit non finansial," ungkap Kaonang.


Usman/Haryo/Hms