Solidaritas Solidaritas Solidaritas -->

Advertisement

Solidaritas Solidaritas Solidaritas

Rabu, 11 November 2020



Postnewstime l Jakarta.-Bukan hanya Lech Walesa yang mampu menyatukan kaum buruh di Polandia untuk mendudukan Lech sebagai pemimpin Polandia puluhan tahun silam. Tapi, juga Gerakan Advokat dan Aktivis (GAAS) juga melakukan hal yang sama.

"Bersatulah kaum buruh," kata Semaun tempo dulu. Himbauan itu demi menggalang kekuatan buruh untuk menjadi penguasa. Namun, himbauan itu tidak  sehebat yang dilakukan Walesa.

Saat ini GAAS tidak perlu seheroik Walesa atau Semaun dalam menghimbau kaum buruh. Cukup himbau para advokat dan para aktivis bersatu dalam sebuah gerakan, niscaya penegakan hukum di  tanah air akan berubah.

Tidak akan ada lagi saksi mahkota yang dianiaya demi mendapat keterangan yang sesuai keinginan polisi. Tidak akan ada lagi polisi yang terpaksa berbohong meski sudah disumpah sekalipun. 

Elza adalah Ketua Dewan Pertimbangan di Gerakan Advokat dan Aktivis (GAAS). Sehingga wajar bila anggota GAAS menunjukkan sikap Solidaritas kepada ibu Elza. Dari 6 saksi fakta terkait kasus yang menjerat Elza Syarief, dari GAAS sudah mengirim 3 orang. Sedangkan, "Orangnya" Kedua - duanya belum satupun mengirim kan  orangnya.

"Solidaritas Solidaritas Solidaritas." Kata - kata Sekjend GAAS Suta Widhya SH, Senin (10/11) siang yang kebetulan menjadi saksi fakta. Ia  hadir di Mapolres Jakarta Selatan untuk memberikan keterangan terkait sebagai saksi Fakta perseteruannya dengan _perempuan itu_  yang tanggal 26 Agustus 2019 membully Elza di sebuah stasiun televisi swasta.

Suta dipanggil untuk Surat Panggilan ke-2 untuk kepentingan pemeriksaan dalam rangka penyidikan perkara yang dilaporkan sehingga perlu memanggil seseorang untuk didengar keterangannya terkait Laporan Polisi nomor LP/5892/IX/2019 /PMJ/Dit Reskrimsus, tanggal 16 September 2019 atas nama saudari Nikita Mirzani dan Surat Perintah Penyidikan nomor SP. Sidik /1054/VII /2020/Reskrim Jaksel, tanggal 09 Juli 2020.

"Kepada penyidik kami nyatakan bahwa lontaran kata 'c*'*u' itu dimulai dari sebuah pertanyaan seorang wartawati, 'apalah ibu tahu ada 12 LP di kepolisian tidak jalan, karena dia  kan' c**u'? Ditujukan kepada ibu Elza Syarief?" Jelas Suta.

Menurut Suta, apa yang sudah ditampilkan oleh ibu Elza saat memberikan keterangan pers dengan menampilkan gaya bahasa simbolik ( *perempuan itu*) sangat tepat untuk menghindari yang bersangkutan dari jerat hukum.(man/sutta)